Babat Pornografi, Selamatkan Manusia!!
Umpama bumi ini datar seperti kata orang-orang zaman dulu, mungkin kata-kata “bumi sekarang sudah terbalik” udah pantas untuk diucapin. Gimana enggak, wong saat ini boleh dibilang, antara yang bener dan yang salah udah susah dibedain. Pornografi dan pornoaksi adalah salah satu contoh yang gamblang. Kita udah ga ga bias nutup mata ama deretan berbagai peristiwa dan kasus pornografi dan pornoaksi yang terjadi di negeri “Vina bilang Cinta” ini. Bukannya semakin redup dari masa ke masa, tapi kasus pornografi tambah ngebikin nepuk dada dan geleng kepala. Bentar..kita geleng kepala dulu…
Nah sobat, ngomongin soal pornografi dan pornoaksi, sebenarnya kita juga aga risih lho...Tapi hal ini mau ga mau, kudu kita jelasin. Kenapa? Udah terlalu banyak hal-hal berbau porno di sekitar kita. Apalagi banyak juga orang yang punya nama Porno..Eh salah itu Parno mas...hehehe. Nah, hal-hal yang nyerempet, nyenggol dan nabrak pornografi pun udah tumbuh subur bak lumut di musim hujan (bosan ah jamur terus…). Jadi sebenarnya masalah pornografi bukan rahasia lagi. Segudang hal yang bernafas mesum diobral rame-rame, bahkan ga heran sekarang udah jadi komoditi masal. Kalah deh ikan dan tahu berformalin…
Sobat, ehem…kalo kita amati nih ya..sebenarnya maraknya kasus pornografi dan pornoaksi di bumi tempat kita berpijak ini punya banyak sebab. Salah satu akar masalahnya yaitu, biasnya pemahaman umat. Iya..pemahaman yang bias alias ga jelas. Kita kadang kejebak ama omongan orang yang nyamain antara pornografi dan seni, antara porno dan bisnis, porno dan mode atau antara porno dan hiburan. Itulah ruwetnya demokrasi. Masih ingat lukisan bertajuk Adam dan Hawa lagi nampangin foto kang Anjasmara yang dengan polosnya berpose. Ada sekelompok orang yang ngatakan itu adalah art alias seni…Kita juga ngerti kalo beberapa tahun lalu, negeri ini heboh ama goyang ngebornya Inul Daratista. Yang secara ga langsung menjadi perintis goyang-goyang yang lain (kecuali kursi goyang hehe…), seperti ngecornya Uut Permatasari dan patah-patahnya si Annisa Bahar. Kita sebenarnya ngerti bener kalo hal semacam itu udah termasuk pornoaksi. Tapi, tetep aja ada beberapa orang yang nyebutin kalo hal semacam itu adalah profesionalisme dunia entertainment alias hiburan. Belum lagi kasus akan terbitnya majalah Playboy edisi Indonesia pada Maret tahun ini. Beberapa kalangan ngatakan itu adalah kebebasan pers dalam dunia bisnis. Memang sih, bisnis porno di beberapa negeri, jadi ladang uang yang menguntungkan. Hasil penelitian Forrester Research di Amerika, layanan hiburan orang dewasa (adult entertainment) di negeri kaum Samiri itu, tiap tahunnya mengeruk untung sekitar 50 hingga 200 juta US dolar. Gile…
Tapi keuntungan untuk segelintir orang semacam itu, ga seharusnya membuat kita korbankan harga diri, iman, pikiran dan jiwa penerus negeri Islam. Ga sebanding deh antara uang dan dosa, serta akibat yang disebabin oleh pornografi. Berapa banyak wanita yang jadi korban pemerkosaan dan kehilangan masa depan…??Berapa banyak anak-anak yang dipaksa melacurkan diri…? Apa ga cukup semua kebejatan moral dan etika yang diumbar dan ga jelas kapan berakhirnya…?? Tanya kenapa??
Malahan, seringkali kita yang ga paham, justru akhirnya nuding balik ke pihak yang ngelarang aksi porno bertaburan. Misal ada ulama yang protes karena Agnes Monica ketika tampil ke panggung mesti bergaya seronok dan kebarat-baratan. Kita yang kemakan oleh opini mode, malah nuduh ulama sekarang ga gaul dan serba kuno…walah kok gini to neng.
Sobat, kita kasih gambaran dikit deh. Kalo sebuah pohon punya akar yang rapuh, ga bakal deh pohon itu bisa bertahan lama. Kena banjir dikit aja bakalan tumbang dan kebawa air. Seperti Hadits Rasulullah SAW, “Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak terdapat ayat Al Qur’an sama sekali, ia bagaikan rumah yang roboh.” (HR. At Thirmidzi). Begitu juga ama pondasi pemahaman kita. Kita yang ga paham dengan larangan pornografi dalam Islam, akan gampang kebawa arus omongan orang lain. Yang parah, malahan kita merasa Islam ga ngatur tentang larangan pornografi dan pornoaksi, dan berbalik nentang para ulama yang mengharamkan hal itu. Bujubuset…ga salah tuh…
By the way, sebab lain yang jadiin pornografi dan pornoaksi semakin meluber di negeri kita adalah ga adanya aturan yang jelas tentang apa itu pornografi dan pornoaksi. Meski UU anti-pornografi sedang dibahas, tetap aja banyak ngalami kebuntuan karena ga adanya pemahaman yang jelas tentang apa itu porno. Beberapa pengamat media, semisal Bang Ade Armando asal Universitas Indonesia ngakui sendiri akan hal itu. Dia mengatakan kalo batasan pornografi adalah yang melanggar batas-batas kesusilaan dan ada unsur membangkitkan birahi. Nah, disinilah problemnya. Bila ini yang dijadikan pijakan, malah UU yang dibuat akan kembali bias. Soalnya tiap negara memiliki perbedaan budaya dan etika, dan ga dikit yang saling tolak belakang. Semisal, kalo di Amerika memakai bikini di pantai adalah hal yang lumrah, sedangkan disini merupakan sebuah hal yang tabu. Bila di Denmark punya alasan kebebasan pers dan nggambarin karikatur Rasulullah (moga Allah membalas perbuatan mereka..), maka di negeri kita, kebebasan semacam itu dinilai pro dan kontra. Meski tanggal 6 Februari 2006 kemaren Polda Metro Jaya menyita ratusan tabloid, majalah dan VCD porno, namun otak-otak berduit di belakangnya masih aja kipas-kipas sambil duduk di kursi goyang, sambil minum kopi dan makan pisang goreng. Walah…jangan sampe deh penegakan hukum jadi fantasi sesaat…
Back to Islam, menyelamatkan manusia
Sobat, Islam sebagai Din yang kafah, jauh-jauh hari udah ngasih aturan yang jelas tentang hal ini. Di ilmu fiqh aja, kita udah kenal dengan apa itu aurat dan batasannya. Untuk laki-laki, aurat adalah bagian pusar hingga lutut, sedang untuk wanita adalah seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan. Nah, aurat ini ga boleh diumbar dengan alasan apapun. Khususon buat kamu-kamu yang udah baligh alias gede. Ini merupakan sebuah aturan preventif alias penjagaan terhadap individu manusia, supaya ga kejebak di lembah porno.
Di bagian individu yang lain, Islam ngewajibin pemeluknya untuk mengkaji Islam secara mendalam. Sehingga tiap muslim terbentuk pemikiran dan perbuatan yang Islami. Ga asal seruduk aja. Bahkan kita dituntut untuk selalu ndekatin diri pada Allah tiap saat, karena Allah akan makin menjaga diri kita. Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang hamba mendekat padaku sejengkal, Aku mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati-Ku sehasta, Aku mendekatinya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku mendekatinya dengan berlari. (Shahih Bukhari, Juz XI/199). Ya Allah….
Di masyarakat, Islam punya peran untuk nyatukan pemikiran, perasaan dan aturan di masyarakat supaya menjadi satu dalam Islam. Kita paham bener gimana Islam dulu bisa mempersatukan semua kabilah di jazirah Arab, yang sebelumnya saling benci dan saling berperang. So, ngelihat baik dan buruknya segala sesuatu berdasar Islam. Bukan pada adat atau budaya. Karena lagi-lagi bakal bias alias ga jelas…Apalagi dalam Al Qur’an, kita diwajibkan mengimani seluruhnya, bukan hanya sebagian. Kalo Islam mewajibkan sholat, Islam juga melarang kita berjudi. Kalo Islam mewajibkan puasa, Islam juga ngelarang kita mengumbar aurat. Allah SWT berfirman, “Apakah kamu mengimani sebagian isi Al Kitab (Al Qur’an) dan menginkari sbagian yang lain? Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat seperti itu, selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat, mereka diberi siksa yang amat berat. Allah tidak lengah dengan apa yang kamu perbuat.” (TQS. Al Baqarah: 85). Bila masyarakat udah punya pemikiran, perasaan dan aturan yang satu..tenang deh kita tinggal di kampung kita.
Di pemerintahan, Islam mewajibkan tiap pemimpin untuk tunduk ama aturan Islam. Bukan yang lain. Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka dengan apa yang diturunkan oleh Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu. (TQS. Al Maidah: 49). Gimana nih penguasa? Allah udah ngasih warning loh, kalo kita ga tegas ama kemaksiatan…Rasulullah SAW juga bersabda, “Sebaik-baik pemimpin adalah mereka yang mencintai kalian, dan kalian pun mencintainya. Seburuk-buruknya pemimpin adalah mereka yang kalian benci dan merekapun membenci kalian.” (HR. Muslim).
Nah sobat, masalah pornografi bukan cuma urusan pribadi. Sebab, ini juga nyantol di masyarakat dan jadi polemik di negara. Maka udah jelas, kita kudu kembali ke Islam…biar umat bisa diselamatkan, alias ga punah. Bila enggak..siap-siap aja deh ngadapi rapuhnya iman, hancurnya keluarga, bobroknya masyarakat dan jatuhnya negara di depan mata. Wallahu ‘alam. (dy)
bisa dilihat juga deh nanti di www.islamuda.com
CINTA...limited edition
Siapa sih yang ga ngerasain cinta? Dari referensi zaman ke zaman, ga ada tuh yang ngabaikan cinta. Adam a.s, the first person on the earth aja udah jatuh hati ama Hawa. Julius Cesar yang tegar dan kukuh di hadapan pasukannya, ternyata tunduk ama kemolekan Cleopatra. Belum lagi kisah cinta seakidah antara Nabi Yusuf dan Zulaikha. Sekuel roman legendaris Romeo dan Juliet. Fiksi, Beauty and the Beast. Nobita dan Shizuka. Plus ribuan cerita yang mendunia, udah menjadi bukti, yang namanya cinta musti laik jadi top headline. Ehem..ehem.
Memang bener, manusia ga akan bisa hidup tanpa cinta. Sejak kita ditimang Umi (Ibu) hingga dibopong ke liang lahat nanti, cinta akan selalu menyelimuti. Cinta Umi-lah dengan perhatian dan tulus kasihnya, yang bisa ngebuat kita jadi gede hingga sekarang. Cinta Ayah-lah dengan kerja keras dan keuletannya, yang bisa bikin kita sekolah dari SD ampe kuliah. Kita ga bisa mengelak sampe kapanpun, kalo cinta emang udah jadi fitrah manusia. Ga akan bisa hilang dari dalam diri dan jiwa. Buktinya, kita bisa ngerasa iba jika ngelihat seorang anak yang meminta sekeping logam di jalanan. Kasihan ama kucing yang jadi korban tabrak lari (soalnya yang nabrak sambil lari pagi…he..he). Merenung pas denger tangisan bayi korban tsunami di Aceh, yang kehilangan kedua ortunya. Hingga jeritan rekan-rekan di Irak yang belum ngerasain kedamaian hingga sekarang. Yup itulah cinta…, sulit untuk digambarin gimana bentuknya, tapi kita bisa ngerti gimana hasilnya. Ya gitu deh…
Sobat, cinta bisa membuat seseorang jadi berubah dan berani berkorban untuk sesuatu yang dia cintai (Puitis banget…). Orang tua kita berani kerja ampe larut malam untuk cari nafkah, buat kita….anak yang mereka cintai. Anak yang ngerti ama ortunya juga bakal sekolah dan nerusin cita-citanya setinggi yang dia bisa..juga gara-gara cinta. Tapi, by the way, cinta paling gres muncul dan paling besar tegangannya, saat kita remaja. Perubahan fisik, hormon, dan pergaulan, bikin kita berubah pandangan soal cintrong dan sekilasnya. Yang semula cuman kenal ayah, ibu, kakak, dan mbah, ganti deh ngelirik cewek tetangga sebelah, atau cowok idola kampung anaknya Pak RT. Eleh-eleh. Kan kita udah gede…jadi udah waktunya dong…Walah gombal banget.
You know, gantinya tampilan diri dan fisik juga pengaruh feromon sedikit banyak nggeser akal sehat. Awas loh…it’s dangerous kalo kebablasan. Ngerti kan feromon tuh apa. Yup biasanya dijelasin tuh kalo kita pas liat “Wild Life” di tivi, feromon tuh hormon yang biasa dikeluarin ama hewan tuk narik lawan jenisnya. Lho..lho kok malah Pelajaran Biologi nih. Ga kok..kita hanya ngegombal aja (he..he..he), kalo “berubah” ini juga sama dialami ama kita. Meski ga semua loh…Bisa aja karena ga punya doku, atau ga suka gaya gaul, apalagi norak. Emoh gitu. Tapi tetep aja perubahan dan ganti suasana itu ada. Camera…rolling…Action. Film banget…
ABG yang dulunya berwajah imut dan tampil apa adanya, mulai kenal apa tuh namanya parfum. Dari minyak nyong-nyong ampe Axe Pulse. Jess di kanan, jess di kiri. Biar wangi… Yang sebelumnya ga mau tuh pake asesoris macem-macem, mulai ngerti apa tuh eyeshadow, tank top, meni-pedi, dan hair ionic. Dempul kanan, permak kiri, fixing atas dan finishing touch di bawah, bikin dia jadi perhatian. Ga heran, penampilan yang Pe-De abis, kadang-kadang mau ga mau bikin orang sekitarnya berkoar, “Mas-mas…godain kita dong” or “Mbak, sendirian aja…mau kemana nih?”.Gaya banget…
Ok Back to the topic. About love…Ehem-ehem. Meski cinta udah merupakan fitrah buat kita, tapi manajemennya sangat penting dan perlu. Biar bisa dikendaliin gitu. Tentunya kita juga kudu ngerti kepada siapa sih cinta yang hakiki tuh. Nampaknya bahasan ini asyik banget loh, soalnya nih bahasannya gue banget…
Mencari Cinta
Sobat, ini bukan potongan lagunya Dewa. Tapi udah selayaknya kita mencari cinta. Cinta siapa? Cinta hakiki toh. Biar kita ga salah jalan. Apalagi sekarang ini tegangan kita lagi tinggi-tingginya untuk menoleh ke arah cinta yang semu.Yang pasti pencarian cinta yang sejati memang penting dan perlu. Kenapa? Kamu tahu kan kalo seseorang udah jatuh cinta, dia bakal mau ngelakuin apa aja untuk yang ia cintai. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Gitu peribahasanya. Gawatnya kalo cinta yang kita temui nanti salah alias hanya fatamorgana doang, kita pasti nyesel nantinya. Udah berani korban harta, tahta dan nyawa…eitss, ternyata hanya cinta bo’ongan. Kacian deh. So, looking for true love…sangat puerlu banget.
Sobat, seseorang mencintai sesuatu pasti karena beberapa hal. Bisa aja dia cinta karena jasa seseorang padanya. Bisa juga gara-gara kekayaannya. Bahkan mungkin juga karena wajah dan cakepnya. Yang pasti seseorang cinta akan sesuatu gara-gara sesuatu tadi punya nilai plus dalam pandangannya. Nilai tambah ini di tiap pikiran manusia berbeda-beda. Ada yang standarnya tinggi banget, ada yang sedang dan ada pula yang ala kadarnya. Tergantung manusianya. Nah, sekarang kita bandingin deh satu-satu.
Sobat, yang pertama itu cinta pada lawan jenis kita. Ya..siapa sih yang ga tertarik sama lawan jenis. Normal-normal aja gitu. Yang cewek suka ama cowok, gitu juga reaksi beruntun dari sang cowok buat cewek. Bener loh. Itu gejala wajar manusia. Justru kalo kamu ga suka ama lawan jenis, dan senang ama sesama jenis, kayaknya kamu perlu periksa ke dokter deh. Hanya saja kita kudu ingat, cinta pada lawan jenis tuh kadarnya serba terbatas. Seseorang yang suka gara-gara wajahnya, pas udah ga ganteng atau ga cantik lagi, maka dia bakal menoleh ke yang lain yang lebih oke punya. Kalo sebab harta, bila harta habis dan ludes, dia akan berpaling ke lawan jenis yang masih berdoku tebal. Ga bagus deh kalo kita curahin semua umur kita buat cinta yang satu ini. Selain serba terbatas oleh pandangan semu manusia, juga terbatas oleh tempat dan waktu. Alias kematian dan jarak. Belum lagi efek negatif dan dosa yang amat besar kalo kita mengumbar cinta kepada lawan jenis. Kegiatan berpacaran ria, bersepi-sepi, dan hingga KNPI, udah jadi kronologi kehancuran remaja kalo ga ada rem cakram buat pergaulannya. Nah disini Allah SWT udah mewanti-wanti kita dengan firman-Nya: “Katakanlah kepada laki-laki Mukmin, hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Sikap demikian itu lebih suci bagi mereka. Allah Maha Tahu atas apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita mukmin, hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluannya.” (TQS. An Nur: 30-31). Nah, untuk yang semacam ini, Islam udah ngasih solusi buat yang udah siap, untuk menikah, bukan berpacaran. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai pemuda, siapa saja diantara kalian mampu menanggung beban, hendaklah segera menikah.” (Al Hadits).
Kedua, cinta pada orang tua kita. Cinta yang kedua ini kudu kita miliki. Kita harus cinta pada ortu dan saudara kita. Kedua ortulah yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Keduanya pula yang melindungi kita saat kecil, dan peduli pada kita saat dewasa. Kata Now See Heart, “Arungilah seribu lautan, kembaralah ke seluruh alam, takkan kau temui, semurni cinta keluarga.” Tuh udah merupakan bukti tangguh buat kita, agungnya cinta keluarga. Allah SWT berfirman, “Janganlah kamu mengatakan kepada keduanya (orang tua), “Ah!” (TQS. Al Isra’: 23). Tapi ingat sobat, cinta pada ortupun sifatnya terbatas. Bisa terhenti karena kematian. Ketaatannyapun bisa kita stop pas ortu menyuruh kita melakukan kemaksiatan. Misal ngelarang anaknya yang muslimah untuk berjilbab. Nah, ini ga boleh dipatuhi. Meski gitu, kita juga kudu nolak dengan bahasa yang akhsan (baik). Ga asal ngomel aja. Kalo ngedumel, kita tetep dosa. Meski kita seharusnya bisa ga salah sih. Allah SWT berfirman: “Kamu takut kepada manusia, padahal Allah-lah yang berhak kamu takuti.” (TQS. Al Ahzab: 37).
Ketiga, cinta pada Allah dan Rasul-Nya. Inilah cinta yang paling tinggi nilainya Ga ada yang bisa lebih mulia dari ini. Kenapa? Karena cinta pada Allah dan Rasul-Nya ga akan bisa lekang oleh waktu dan tempat. Kata Al Zujaj, cinta kita pada Allah dan rasul-Nya berarti mentati semua perintah dan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Sebaliknya cinta yang tertinggi dari Allah kepada manusia adalah ampunan, ridha dan pahala. Sobat, cuma Allah aja yang bisa ngasih kita ampunan, ridha dan pahala. Yang bisa nggiring kita masuk ke surga. Yang lain..he..he..lewat! Pacar ga akan bisa ngasih ampunan buat kita apalagi pahala. Boro-boro ngasih uang jajan, berangkat sekolah aja bonceng. Demikian juga orang tua, saudara, teman, jabatan, dan harta. Semua ga bisa membuat kita memasuki surga dengan ridha Allah. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjuang (jihad) di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk pada orang-orang yang fasik.” (TQS. At Taubah: 24). Nah dari sini udah ngerti kan gimana nentuin cinta yang hakiki.
Jangan Nyesel Nanti
Sobat, sekali lagi kita ulang ya…cinta emang fitrah manusia. Tapi ingat cinta kepada selain Allah dan Rasul-Nya itu limited edition, alias edisi yang terbatas banget. Utamain deh cinta kepada Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain. Cinta pada Allah dan Rasul-Nya berarti menjalani semua perintah dan jauhi semua larangan-Nya. Nah, kalo ini kita lakuin, pasti semua diferensial alias turunan cinta di bawahnya, pasti ngikut jadi cinta yang mulia. Percaya deh..
Kalo semua kegiatan kita disandarkan pada cinta pada Allah dan Rasul-Nya, pasti seneng banget. Cinta pada ortu akan jadi agung. Cinta pada sesama manusia akan jadi indah, dan cinta pada lawan jenis akan jadi berpahala. Gitchuu.
So, jangan sampe deh kita kejebak dengan cinta semu. Kita bakal susyeh dunia akhirat. Inget ye…
Kita Tak Sendiri

STUDIA Edisi 262/Tahun ke-6 (19 September 2005)
Kamu suka nonton pertandingan sepakbola? (mana neh para JakMania dan siapa aja yang jadi Serdadu Bonek?) Yap, dalam pertandingan sepakbola, sebuah tim terdiri dari sebelas orang, itu sebabnya disebut kesebelasan. Dari sebelas orang itu kemampuannya berbeda-beda dan sangat spesifik sesuai keahliannya. Ada yang bertugas jadi penjaga gawang. Meski ‘kerjaannya' lebih banyak diem tapi bukan berarti paling enak. Tetep punya tanggung jawab di bidangnya.
Nah, karena sangat disadari betul sehebat apa pun sang penjaga gawang tetap harus dibantu pemain belakang (bek: kiri, tengah, dan kanan), malah ada juga pelatih yang memasang wing back segala. Biasanya ini untuk membantu serangan. Coba deh, Gianluigi Buffon yang jadi kiper Juventus meski doi jagoan, nggak bakalan tahan kalo tanpa dibantu Fabio Cannavaro dkk di lini belakang.
Pelapisan kekuatan itu untuk mengantisipasi kemampuan penjaga gawang yang ada batasnya. Di sinilah diperlukan kerjasama. Nggak boleh seorang striker alias penyerang merasa paling berjasa karena bisa menceploskan bola ke gawang lawan. Mustahil, tanpa dukungan semua pemain dengan kemampuan dan keahliannya masing-masing bakalan menuai hasil maksimal. Kalo sendirian? Babak belur!
Kerjasama seperti ini asyik dilaksanakan dan enak buat yang nonton. Semuanya bergerak untuk menciptakan irama dan dinamika permainan yang oke punya. Bahkan, beragam pemain dengan tingkat kemampuan yang berbeda sulit disatukan jika seorang pelatih nggak ngerti en nggak menguasai teknik sepakbola dan pandai memoles sisi psikologis pemain. Iya kan?
Kemampuan dan kebijakan seorang pelatih diharapkan mampu mensinergikan kekuatan para pemain. Ada saatnya merotasi pemain jika kebetulan punya skuad banyak di satu posisi. Misalnya, ia harus pandai membujuk dan meyakinkan pemain bahwa pola rotasi yang digulirkannya tanpa maksud mengecilkan peran dari pemain tertentu. Tapi bisa dijelaskan bahwa hal itu sebagai bentuk penghematan tenaga, apalagi kompetisinya ketat seperti di Liga Inggris.
Terus kalo menghadapi pemain yang ogah dirotasi, tugas pelatih dan jajarannya untuk menjelaskan dan membantu meyakinkan bahwa keutuhan tim dan kerjasama harus dikedepankan tanpa melukai perasaan invidu pemain. Meski pada praktiknya kadang sulit dihindarkan dengan tanpa mencederai hati para pemain yang kebetulan ‘tersisih' sementara. Ya, namanya juga manusia.
Itu sebabnya yang terpenting bukan sebisa mungkin berbuat adil dan menyenangkan tiap individu pemain, tapi harus diciptakan komunikasi yang terbuka. Pelatih bisa menerima kritik dan saran dari pemain, mau dan mampu mendengar keluhannya dan menentukan keputusan yang bijak dan obyektif. Pemain pun dituntut untuk berjiwa besar jika kebetulan duduk di bangku cadangan dengan alasan yang memang bisa dipertanggung-jawabkan. Bukan karena alasan politis atau karena sentimen pribadi dari pelatih atau pihak manajemen. Iya nggak?
Selain itu, suasana kompetisi yang sehat juga harus dibudayakan. Misalnya saja, bagi pemain yang bisa mencetak gol ke gawang lawan diberikan bonus tertentu. Kemudian untuk yang melakukan pelanggaran berat atau mangkir saat latihan, bisa dikenakan denda atau sanksi administratif seperti tidak boleh bermain dalam satu pertandingan. Begitu pula ‘reward and punishment' diberlakukan kepada pihak manajemen. Mulai dari official tim, asisten pelatih sampe menajer tim. Rasanya, bukan mustahil jika tercipta kenyamanan karena kita bisa bekerjasama dengan baik dan benar sesuai porsi dan kemampuannya masing-masing. Oke nggak tuh?
Sobat muda muslim, belajar dari fakta tentang sepakbola di atas, rasa-rasanya kita tak perlu sedih dalam hidup ini karena memang kita tak sendiri. Adanya teman, guru, keluarga, dan orang-orang yang bisa memberikan kenyamanan, kedekatan, perhatian, kepedulian, kepercayaan akan menjadikan kita lebih berarti dalam hidup ini. Kita akan bekerjasama untuk mewujudkan impian terindah dalam hidup kita. Ya, karena kita tak sendiri.
Berbahagialah punya teman
Memiliki teman bisa menjadikan hidup lebih hidup. Minimal kita nggak kesepian di dunia ini. Kita masih punya teman untuk berbagi cerita, berbagi kesedihan, termasuk berbagi kebahagiaan. Kita, nyaris selalu merasa lega setelah berbagi dengan orang lain. Apalagi jika orang itu amat dekat dengan kita secara psikologis. Asyik tenan.
Nggak salah-salah amat kalo Alan Loy McGinnie berkomentar: “Orang-orang dengan persahabatan yang dalam dan langgeng bisa pendiam atau suka ngobrol, bisa muda atau tua, bisa membosankan atau menarik, bisa pandai atau bodoh, bisa sederhana atau berpenampilan baik; tetapi satu karakteristik mereka yang selalu sama adalah: keterbukaan.”
Yup, benar. Keterbukaan adalah modal sebuah persahabatan. Kalo udah saling terbuka, maka kita akan tahu masing-masing dari kita. Kita jadi TST alias tahu sama tahu soal kelebihan masing-masing, termasuk kekurangan masing-masing. Kalo udah begini, biasanya kita akan saling melengkapi. Bahkan tak jarang akan memicu kita untuk saling terwarnai. Jadi jangan heran kalo ada orang yang bersahabat dengan seseorang, sampe perilaku dan gayanya mirip banget. Sulit dikatakan kalo satu sama lain saling mencontek, tapi saya yakin, mereka saling memberi insipirasi satu sama lain. Inilah enaknya bersahabat baik.
Sobat muda muslim, saya yakin banget kalo teman bisa memberikan inspirasi buat kita. Terlepas dari apakah inspirasinya salah atau benar. Kasus narkoba yang mudah menyebar lewat peer group (kelompok teman sebaya), menjadi bukti kuat bahwa kumpulan itu saling memberi warna dan inspirasi buat yang lain. Mungkin awalnya satu orang yang berani ngisep ganja, lama-lama menularkannya kepada yang lain.
Yup, banyak jalan menuju ke sana. Bisa karena sama-sama ada masalah dengan keluarganya, dan kasusnya mirip. Kemudian ketika sang teman nyandu putauw, ia terinspirasi untuk melakukan ‘kegiatan' yang sama, dengan alasan temannya melakukan itu sebagai ‘solusi' atas masalah yang sedang dihadapinya. Atau lihat deh gimana akrabnya Bonnie and Clyde, dua orang perampok kesohor di Amrik dulu, bahkan sempat difilmkan segala, pastinya mereka saling memberi inspirasi dalam melakukan aksi perampokannya, tapi ini inspirasi dalam kejahatan. Nah lho? Saya pernah menerima rengekan anak saya minta dibelikan sebuah makanan, ia ‘terinspirasi' temannya yang telah lebih dulu mengunyah makanan yang dia maksud. Teman anak saya telah menjadi inspirasi bagi anak saya untuk berbuat hal yang sama.
Oke deh, karena teman ini sangat berpengaruh dalam hidup kita, dan bahkan mampu memberi inspirasi buat kita, tolong deh untuk membiasakan mencari teman yang baik-baik. Jadi, inspirasi yang muncul dan kita ikuti juga adalah hal yang baik-baik. Siap kan? Supaya apa? Selain berteman menjadikan kita tak merasa sendiri dalam hidup ini, juga agar pergaulan kita juga sehat. Tul nggak seh?
Tak pernah benar-benar sendiri
Sobat muda muslim, dalam hidup ini segalanya bisa saja berubah-ubah. Jalan yang kita tempuh tuh nggak lurus terus, pun nggak melulu berkelok-kelok. Itu sebabnya, jika suatu saat karena dakwah kita menyebabkan orang lain menjauhi kita, kita jangan kaget. Karena hidup tak bisa selamanya memilih dengan pilihan yang baik-baik saja menurut ukuran kita. Ini risiko yang telah kita ambil.
Risiko yang nggak jarang bikin sebagian dari kita berguguran di tengah jalan. Nggak kuat nahan bebannya. Itu sebabnya, kesabaran dan keimanan yang mantep sangat dibutuhkan dalam mengarungi medan dakwah ini. Selain itu, tentu kudu ikhlas juga dong ya.
Para pendahulu kita juga pernah mengalami hal demikian. Allah Swt. mengabadikannya dalam al-Quran: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS al-Baqarah [2]: 214)
Beliau saw. pun pernah berdoa di kebun anggur milik seorang Nasrani, Uqbah bin Rabi'ah setelah dakwahnya di Thaif tidak mendapat sambutan, tetapi sambitan. Rasulullah saw. berdoa seperti ini: “Ya Allah, kepadaMu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan ketidakberdayaan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Zat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Pelindung bagi si lemah, dan Engkau jualah Pelindungku! Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajahMu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat, dari murkaMu yang hendak Engkau turunkan kepadaKu. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun selain atas perkenanMu”
Meski demikian, Rasulullah saw. pun tetap semangat dan berani dalam berdakwah. Beliau pernah berkata kepada pamannya ketika diminta untuk mengurangi kegiatan dakwahnya,: “(Paman), demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku hancur karenanya.”
Berbagai penyiksaan pun dialami para sahabatnya. Pembesar Quraisy sendiri bahkan sempat akan membunuh Muhammad. Berat juga emang. Ya, begitulah, menyampaikan kebenaran Islam kepada mereka yang mulai pudar dengan Islamnya, apalagi yang membenci Islam, akan ada aja gesekannya. Maklumlah, seperti kata pepatah “bagi mereka yang sudah terbiasa dengan kegelapan, cahaya terang memang menyilaukan”. Pantes aja kalo kita ngasih tahu sama mereka yang masih doyan maksiat, suka reaktif. Langsung kaget dan mungkin menyerang kita, dari yang sekadar umpatan sampe pukulan.
Padahal, maksud kita juga adalah menolongnya. Sekadar mengingatkannya. Dan itu bukan berarti kita udah benar en suci. Sangat boleh jadi kita juga masih perlu belajar banyak. Ya, kita sama-sama aja jalan ke arah kebaikan. Kata Kahlil Gibran, “Engkau buta, sedangkan aku bisu tuli. Jadi mari berpegangan agar mengerti” Tul nggak?
Kesabaran dan istiqomah juga harus dimiliki setiap pegiat dakwah. Bahkan itu akan menjadi penghibur kita di kala sedih. Biarlah sekarang kita dbilangin sok tahu, mau menang sendiri, sok suci, tukang kritik orang, fanatik, fundamentalis. Meski semua itu juga nggak benar, cuma anggapan mereka yang nggak suka aja sama aktivitas dakwah. Kita nggak gentar, karena Allah menjanjikan kenikmatan dalam bentuk lain. Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS Fushilat [41]: 30)
Jadi jangan cemas, hanya karena dijauhi oleh orang-orang yang tak mau mendengar dakwah kita. Kita nggak pernah benar-benar sendiri kok. Karena Allah akan senantiasa bersama orang-orang yang berjuang membela agamaNya. Yakin deh. Itu sebabnya, tetap semangat! [solihin:
sholihin@gmx.net]
Proposal Nikah

Latar Belakang
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : "Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu".
Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na'udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : "Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor" (Qs. Al Israa' : 32).
Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. "Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu," ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga¡¨, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a'lam.
Ibunda dan Ayahanda tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.
Dasar Pemikiran
Dari Al Qur¡¦an dan Al Hadits :
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32). "Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49). ¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui¡¨ (Qs. Yaa Siin (36) : 36). Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72). Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21). Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71). Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1). Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26). ..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa' (4) : 3). Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36). Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.). Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi). Dari Aisyah, "Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud). 14. Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." (HR. Baihaqi). Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai). "Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram." "Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud). Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud). Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi). Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah). Rasulullah SAW. bersabda : "Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari). Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani). Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif). Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).
Tujuan Pernikahan
Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam. Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim. Mendapatkan cinta dan kasih sayang. Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya). Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat). Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)
Kesiapan Pribadi
Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : ¡§Man Jadda Wa Jadda¡¨ (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu). Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum). Termasuk tathhir (mensucikan diri). Secara materi, Insya Allah siap. ¡§Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya¡¨ (Qs. At Thalaq (65) : 7) Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan
Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex. Tertunda lahirnya generasi penerus risalah. Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah. Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi. Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW. bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad) dan "Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya" (HR. Thabrani dan Baihaqi).. Astaghfirullahaladzim.. Na'udzubillahi min dzalik Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :
Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dsb Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu'an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.) Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua. Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah. Memperbaiki Niat :
Innamal a'malu binniyat....... Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.
Niat Ketika Memilih Pendamping
Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya."(HR. Thabrani).
"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama". (HR. Ibnu Majah).
Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits).
Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama." (HR. Muslim dan Tirmidzi).
Niat dalam Proses Pernikahan
Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya'. "Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan."(Qs. An Nisaa (4) : 4).
Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, "Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : "Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : " Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya" (Ditakhrij dari An Nasa'i)..Subhanallah..
Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. "Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing." (HR. Bukhari dan Muslim)
Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.
Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo'akan pengantin dengan do'a : Barokallahu laka wa baroka 'alaikum wa jama'a baynakuma fii khoir.. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan ("Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama" - Qs. Al Ahzab (33),
Meraih Pernikahan Ruhani
Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah.
Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)
Penutup
"Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas." (Qs. Al Maidaah (5) : 87).
Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ).
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan "Jazakumullah Khairan katsiira". "Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin"
====================================
Dedicated to : My inspiration .... yang pernah singgah dan menghuni "hati" ...Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya..Lalu, kucoba atur gelombang asa..Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu.. Kuharap ada penolong dari hambaMu meneguhkan tapak kakiku di jalan-Mu dan menemani panjangnya jalan dakwah yang harus aku titi.. " Saat Cinta dan Rindu tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah.."
====================================
Maraji / Referensi :
Majalah Ishlah, Edisi Awal Tahun 1995. Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasyid, 1994, Cet. 27, Bandung, Sinar Baru Algesindo. Fikih Sunnah 6, Sayyid Sabiq, 1980, cet. 15, Bandung, Pt. Al Ma'arif. Kupinang Engkau dengan Hamdalah, Muhammad Faudzil Adhim, 1998, Yogyakarta, Mitra Pustaka. Indahnya Pernikahan Dini, Muhammad Faudzil Adhim, 2002, Cet. 1, Jakarta, Gema Insani Press. Rintangan Pernikahan dan Pemecahannya, Abdullah Nashih Ulwan, 1997, Cet. 1, Jakarta, Studia Press. Perkawinan Masalah Orang muda, Orang Tua dan Negara, Abdullah Nashih Ulwan, 1996, Cet. 5, Jakarta, Gema Insani Press. Kebebasan Wanita, jilid 1, 5, 6, A.H.A. Syuqqah, 1998, Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press Sulitnya Berumah Tangga, Muhammad Utsman Al Khasyt, 1999, Cet. 18, Jakarta, Gema Insani Press. Majalah Cerdas Pemuda Islam Al Izzah, Wahai Pemuda, Menikahlah, No. 17/Th. 2 31 Mei 2001, Jakarta, YPDS Al Mukhtar.
99 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman

01. Bersyukur apabila mendapat nikmat; 02. Sabar apabila mendapat kesulitan; 03. Tawakal apabila mempunyai rencana/program; 04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan; 05. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan; 06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan; 07. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan; 08. Jangan usil dengan kekayaan orang; 09. Jangan hasad dan iri atas kesuksessan orang; 10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksessan; 11. Jangan tamak kepada harta; 12. Jangan terlalu ambitious akan sesuatu kedudukan; 13. Jangan hancur karena kezaliman; 14. Jangan goyah karena fitnah; 15. Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri. 16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram; 17. Jangan sakiti ayah dan ibu; 18. Jangan usir orang yang meminta-minta; 19. Jangan sakiti anak yatim; 20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar; 21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil; 22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid); 23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu; 24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah di masjid; 25. Biasakan shalat malam; 26. Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah; 27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat; 28. Sayangi dan santuni fakir miskin; 29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah; 30. Jangan marah berlebih-lebihan; 31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan; 32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah; 33. Berlatihlah konsentrasi pikiran; 34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi; 35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syaitan; 36. Jangan percaya ramalan manusia; 37. Jangan terlampau takut miskin; 38. Hormatilah setiap orang; 39. Jangan terlampau takut kepada manusia; 40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala; 41. Berlakulah adil dalam segala urusan; 42. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah; 44. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran; 45. Perbanyak silaturrahim; 46. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam; 47. Bicaralah secukupnya; 48. Beristeri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya; 49. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu; 50. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur; 51. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin; 52. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga; 53. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan; 54. Hormatilah kepada guru dan ulama; 55. Sering-sering bershalawat kepada nabi; 56. Cintai keluarga Nabi saw; 57. Jangan terlalu banyak hutang; 58. Jangan terlampau mudah berjanji; 59. Selalu ingat akan saat kematian dan sedar bahawa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara; 60. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna; 61. Bergaul lah dengan orang-orang soleh; 62. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar; 63. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu; 64. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita; 65. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi; 66. Jangan membenci seseorang karena pahaman dan pendiriannya; 67. Jangan benci kepada orang yang membenci kita; 68. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan 69. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan. 70. Jangan melukai hati orang lain; 71. Jangan membiasakan berkata dusta; 72. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian; 73. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab; 74. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan; 75. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita 76. Jangan membuka aib orang lain; 77. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita; 78. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana; 79. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan; 80. Jangan sedih karena miskin dan jangan sombong karena kaya; 81. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama,bangsa dan negara; 82. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain; 83. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara; 84. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa; 85. Hargai prestasi dan pemberian orang; 86. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan; 87. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan. 88. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita; 89. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisikal atau mental kita menjadi terganggu; 90. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana; 91. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita; 92. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina; 93. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita sebelum dipastikan kebenarannya; 94. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban; 95. Sambutlah huluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan; 96. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang diluar kemampuan diri; 97. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tentangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan; 98. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan merusakan; 99. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang
"Sebarkanlah walau satu ayat pun" (Sabda Rasulullah SAW) "Nescaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (Surah Al-Ahzab:71)
----------sumber : Milis Daarut Tauhiid